;

Rabu, 11 April 2012

Tujuan Pendidikan Multikultural

Rabu, 11 April 2012

Tujuan pendidikan multikultural adalah agar anak-anak dapat menghormati keanekaragaman budaya yang ada dan mendorong mereka secara nyata untuk dapat mengenali dan melenyapkan kecurigaan serta diskriminasi yang telah ada.
Pada intinya pendidikan multikultural mempunyai dua fokus persoalan, yaitu:
1. Proses pendidikan yang menghormati, mengakui dan merayakan perbedaan di semua bidang kehidupan
manusia. Pendidikan multikultural merangsang anak terhadap kenyataan yang berkembang di masyarakat, yang berupa pandangan hidup, kebiasaan, kebudayaan, yang semuanya telah memperkaya kehidupan
manusia.
2. Proses pendidikan yang menerapkan persamaan keseimbangan dan HAM, menentang ketidakadilan diskriminasi dan menyuarakan nilai-nilai yang membangun keseimbangan.
Pendidikan multikultural adalah sintesa dari pendekatan pendidikan anti-rasis dan multi-budaya yang dipakai secara internasional pada tahun 60an hingga 90an. Indonesia sejak awal berdirinya telah mempunyai banyak keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan agama. Keanekaragaman inilah yang sering diistilahkan dengan multikultural atau interkultural. Kedua istilah ini menggambarkan situasi di mana terdapat banyak kultur dalam sebuah negara. Istilah multikulturalisme kadang digunakan untuk menggambarkan sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat banyak kultur yang berbeda yang hidup berdampingan tanpa ada banyak interaksi. Istilah interkulturalisme mengungkapkan sebuah kepercayaan yang setiap orang merasa diperkaya secara pribadi dengan berinteraksi dengan kultur lain. Setiap orang dari suku yang berlainan dapat terlibat dan belajar dari satu sama lainnya.


Pendidikan tidak hanya merefleksikan kondisi masyarakat, tapi juga mempengaruhi perkembangannya. Misalnya, sekolah sesungguhnya mempunyai peran dalam mengembangkan masyarakat interkultural. Akan tetapi sekolah sebenarnya bukan satu-satunya yang terbebani dengan tanggung jawab menentang ketidakadilan budaya ataupun menyuarakan arti penting interkulturalisme. Sekolah mempunyai kontribusi yang penting untuk memfasilitasi perkembangan anak dalam hal penyikapan, kecakapan, nilai-nilai dan pengetahuan interkultural. Pendidikan interkultural seharusnya dijadikan sebagai cara untuk mengajak anak untuk berpartisipasi dalam perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Bisa dikatakan, pendidikan yang hanya didasarkan pada satu kultur, akan sulit mengembangkan anak didik ke depannya.


Pendidikan interkultural ditujukan untuk:
Menciptakan kondisi yang kondusif bagi masyarakat majemuk
Menumbuhkan kesadaran anak atas kultur mereka sendiri dan menyelaraskannya dengan kenyataan bahwa ada banyak cara hidup lain selain cara hidup mereka sendiri Menumbuhkan respek terhadap lifestyle lain selain lifestyle mereka sendiri, sehingga anak akan saling memahami dan menghormati
Menumbuhkan komitmen persamaan hak dan keadilan
Membuat pilihan-pilihan bagi anak tentang bagaimana bertindak berkaitan dengan isu-isu diskriminasi dan kecurigaan
Menghargai dan menghormati kesamaan dan perbedaan
Menjadikan anak dapat mengungkapkan kultur dan sejarah mereka sendiri.
Contoh Kasus:
Berikut ini adalah pengalaman seorang yang berkulit putih berkenaan dengan interaksi sosial yang dialami anaknya dengan temannya yang berkulit hitam.
Saya mendapat telepon dari TK tempat anak saya belajar, katanya ada sebuah persoalan yang sulit dipecahkan berkaitan dengan ketidaksukaan anak saya terhadap temannya yang berkulit hitam. Saya bingung dan malu, karena keluarga kami bukanlah rasis dan tidak suka membeda-bedakan orang karena warna kulitnya. Saya ingin tahu apa yang terjadi dengan anak saya, dan saya tidak ingin terlalu menilai. Saya hanya bertanya, kenapa dia tidak suka temannya yang hitam? Anak saya berkata: "Karena dia nggak pernah mandi dan selalu kelihatan kotor".
Saya terangkan bahwa temannya bukannya tidak mandi, dia sebenarnya bersih, cuma kulitnya memang hitam. Tapi keterangan saya ini tidak membuatnya mengerti.
Lalu saya berpikir sejenak, dan kemudian melihat buku-buku yang biasa saya bacakan kepadanya. Saya perhatikan ternyata semua gambar dan foto manusia yang ada di buku itu semuanya bekulit putih. Lalu saya sadar bahwa anak saya ini telah tumbuh dengan kesadaran bahwa normalnya orang itu berkulit putih, konsekuensinya ia menganggap orang berkulit hitam tidak normal. Saya ingin menunjukkan padanya bahwa manusia itu memiliki warna kulit yang berbeda-beda, dan tak perlu takut atau kuatir. Saya membeli beberapa buku baru yang di dalamnya ada orang dengan warna kulit berbeda-beda. Ketika saya membacakannya, saya menunjukkan bahwa anak-anak lain ada yang berkulit coklat, hitam, merah, kuning dan lain-lain. Singkat waktu, akhirnya saya melihat ada perbedaan dalam kesadaran anak saya.
Contoh di atas hanyalah sebuah pengalaman pribadi yang dialami seseoran, akan tetapi hal ini paling tidak
menunjukkan salah satu contoh dari banyak persoalan yang terjadi di masyarakat kita.
Pendidikan interkultural adalah untuk semua anak tanpa memperdulikan kebudayaan mereka sendiri. Karena semua anak sekarang hidup dalam suatu tatanan dunia yang semakin beranekaragam, maka kita perlu mempersiapkan mereka. Pendidikan interkultural adalah bagian penting dari pengalaman pendidikan setiap anak, baik ketika anak belajar di sekolah yang berkarakter multikultural maupun mono-kultural, bagi anak yang berasal dari kultur dominan maupun minoritas.


Pendidikan interkultural adalah untuk semua anak tanpa memperdulikan umur mereka. Mengakui bahwa perbedaan adalah normal dan wajar dalam hidup manusia, harus ditanamkan pada anak, berapa pun usia mereka. Sikap dan kemampuan anak yang mungkin akan menimbulkan persoalan kelak, sebenarnya telah berkembang ketika mereka masih kecil.
Bahasa dan perbincangan adalah komponen fundamental dari pendidikan interkultural. Adalah penting untuk
memberikan anak informasi yang akurat dan menentang segala stereotip dan miskonsepsi. Mengembangkan kecakapan interkultural adalah lebih efektif jika dilakukan melalui perbincangan dengan anak tentang pemikirannya, daripada memberikan penjelasan mengenai salah dan benar.
Pendidikan interkultural terjadi secara natural melalui "kurikulum tersembunyi" melalui apa yang dilihat dan diserap di mana anak tersebut tumbuh. Sementara itu, kelihatannya mungkin dan perlu bila ide-ide interkultural dan keadaan mayarakat yang melingkupi anak, dimasukkan dalam pengajaran kurikulum formal. Dalam mengeksplorasi kurikulum tersembunyi yang ada di masyarakat secara alami, penting juga untuk dicatat bahwa apa yang ditemukan di dalam masyarakat sama pentingnya dengan apa yang tidak ada.
Pendidikan interkultural lebih berkaitan dengan kultur dan agama, daripada dengan warna kulit atau kebiasaan. Pada contoh kasus di atas, warna kulit yang menjadi persoalan diskriminasi. Pendidikan interkultural harus secara benar diposisikan dalam melawan diskriminasi karena warna kulit maupun kultur dan agama maupun kelompok minoritas.


TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Ninik - 08.20

0 komentar:

Poskan Komentar

ninik9001.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.